Currently in Kantor,
Akhir-akhir ini, sejak mulai interim di Oktober tahun lalu tepatnya, saya mulai kepikiran yang aneh-aneh. As we all know, the weirdest the thought the fastest it taken root in your mind. Yah, itu juga yang terjadi pada saya. Pikiran aneh itu muncul sekelebat, kemudian hilang, tapi lalu muncul lagi dengan durasi makin panjang. Pada akhirnya pikiran aneh itu malah tanda tangan kontrak tayang 10 episode..(--!).
Anyhow, pikiran aneh itu sudah tertanam jauh di pikiran saya dan makin lama makin tidak terasa aneh, malah cenderung brilian. Sekarang malah sudah menjadi salah satu tujuan jangka pendek yang harus saya lakukan.
Oke, jadi dimulainya seperti ini:
Saya punya impian masa kecil untuk jadi ibu rumah tangga yang mengabdikan diri untuk suami dan anak. Punya rumah bagus dan menyenangkan, yang saya tata sendiri sehingga rumah itu benar-benar menjadi rumah saya. Nantinya anak-anak saya akan menjadi anak yang baik, sehat, dan bahagia juga sukses. Saya dan suami memiliki hubungan yang saling percaya, setia, bahagia, dan saling melengkapi.
Nah, sampai Desember 2012, saya ada di belakang garis start dari mimpi saya itu. Jaaaauuuuuuh di belakang garis start, malah mungkin masih belum mendaftar di perlombaan yang belum tau kapan dimulainya. Sejauh itulah saya.
Tapi sesuatu terjadi di Desember 2012. Saya 'bertemu' dengan lelaki ini..
Itu bukan pertemuan kami yang pertama, tapi jelas ternyata bukan yang terakhir.
This Man turn out to be the perfect person for me.
Since that beginning everything happen at it best speed. Tau-tau obrolan kami sudah selalu mengarah ke rencana masa depan. Tau-tau saya dibawa berkenalan dengan keluarganya, dan dia dengan keluarga saya. Tau-tau sudah ada tanggal pasti, gedung pasti, catering dan pelaminan, baju dan undangan dan souvenir. Baru bulan kemarin kami resmi menyewa rumah kecil. Bulan ini kami sudah menyicil perabotan dan barang elektronik.
Tau-tau sekarang tinggal 2 bulan dari the-Day. WOW.
Jadi sekarang saya ternyata tidak hanya sudah di tengah perlombaan tapi sudah hampir sampai ke garis finish. Kesadaran inilah yang memicu si pemikiran aneh itu muncul.
Saya ingin resign dari pekerjaan saya.
Saya ingin berhenti menjadi auditor.
Saya ingin berhenti.
Pemikiran inilah yang bercokol tidak mau lepas dari kepala saya selama beberapa bulan belakangan.
Saya ingin berhenti.
Saya ingin berhenti.
Maka saya berunding dengan calon suami saya mengenai pemikiran ini.
Saya ceritakan mengenai kejenuhan yang saya alami, tentang jam kerja yang aneh, tentang kesulitan saya untuk tidak malas, kesulitan saya untuk terus berada di tempat kerja saya.
Dan terakhir saya katakan:
Saya ingin berhenti.
Hari itu saya terharu, hampir menangis di depan umum (dan benar-benar menangis di kamar malam harinya), karena mas calon setuju, sangat setuju, dengan pemikiran saya.
Saya boleh berhenti.
*Sekarang saya izin nangis dulu
Oke, I'm back. Jadi, saya boleh berhenti.
Rasa lega membanjir. Saya senaaaaaaaaaaaang sekali.
Next adalah kapan dan apa: kapan saya sebaiknya berhenti dan apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Hati saya dengan sangat frontal berkata, "Saat ini juga!!!!". Namun otak dan dompet saya berkolaborasi meneriakkan, "Selesaikan semua tagihan dulu!!!!". Maka saya pun menurut.
Bukan apa-apa, saya ingin memulai hidup baru dengan kondisi bebas hutang..haha..dan untuk itu saya masih butuh gaji, dan untuk mencari pekerjaan baru ga segampang ngedip. Maka saya masih disini. Walaupun rasa malas sudah mulai menjadi-jadi dan membuat pekerjaan tidak sempurna (maafkan saya). Saya menyalahkan motivasi yang pergi sebelum waktunya.
Anyway, ini sudah tidak akan lama lagi sih. Saya tetap akan berhenti dan saya akan menarik nafas sejenak sebelum bergelut dalam lumpur tanggung jawab lagi.
Tidak akan lama lagi. Amin.
1 komentar:
yeaaay bentar lagi juma lulus dari KAP *syukuran*
Posting Komentar