Rabu, 13 Oktober 2010

7 Mei 2010, Jumat

I'm 24 years old this December.
Currently working as an auditor, and earn more than enough to feed my own mouth.
Up to this very second I'm still single, and this is what make my lovely mom going crazy..hehe..

Huff,,pernah ada yang tanya sama gw, "menurut lo, maksimal cewe itu menikah umur berapa ya?". Pertanyaan ini diajukan based on pendapat masyarakat yang masih melihat kalau perawan tua itu sebagai suatu aib, ga peduli deh si perawan meraih pencapaian yang bikin bangga seluruh dunia, kalau dia masih belum dapet suami yang mapan dan menghasilkan keturunan segambreng tetep aja dia bakal dicap gagal. Dan sedihnya, keluarga gw juga adalah penganut paham "menikah di atas 25 itu udah setengah aib".
Owh, gw bukan feminis yang menganggap pernikahan itu adalah suatu belenggu untuk kaum wanita, absolutely not. Gw cuma seorang romantis, yang inginnya sih menikah dengan orang yang gw cintai (walaupun gw rasa bakal banyak orang yang muntah2) dengan sepenuh hati. Gw ga mau menikah hanya karena semua orang sudah menikah dan punya anak. Seumur hidup gw melakukan sesuatu, memutuskan sesuatu hanya untuk bikin seneng orang tua gw (and I'm happy with it), tapi untuk keputusan seumur hidup ini gw ga bisa cuma mendengar desakan2 mereka dan mengiyakan lamaran pertama yang masuk hanya supaya mereka punya mantu dan segera punya cucu. Sorry to say, I'm not that bad until I have to lose my chance to choose.
Mungkin ada yang bilang gw sombong atau terlalu pemilih, tapi emangnya salah? Untuk partner seumur hidup lo, orang yang akan berbagi segalanya dengan lo? I think it's worth to wait and select the best kan ya. Gw ga mau aja gw harus berbagi hidup gw dengan orang yang ga bisa menggerakan hati gw sama sekali, yang ga bisa bikin gw hormat dan sayang sama dia, yang ga bisa bikin gw siap berkorban dan rela menjalani hidup senang dan susah dengan dia. Gw ga mau aja menikah dengan orang yang seumur hidup kami nanti akan selalu gw remehkan dan tidak pernah gw perhitungkan keputusannya.
Jadi, Mamaku sayang, sabar ya..mungkin masih agak lama mama harus menunggu sampai bisa bikin hajatan untuk anak pertamamu ini.hehe.
Tapi dulu pun mama ga kebayang kan anak mama ini bisa jadi sarjana,,jadi anakmu ini pasti jadi pengantin kok,,cuma mungkin ga dalam waktu dekat ini. Karena anakmu ini ga peduli apakah calonnya adalah auditor atau pak hakim atau bahkan anak presiden, selama hatinya belum bisa berdebar kalau melihat orang itu, dia tidak akan bisa menikah dengannya. Jadi, sabar ya ma.

Tidak ada komentar: