Bloggie,,
sebelum juma masukin cerita perjalanan juma selama mudik lebaran kemarin, izinkanlah juma membuat pengakuan yang membuat juma agak malu karena sudah jadi munafik.
pengakuan ini sebaiknya juma awali dengan sebuah cerita:
beberapa waktu yang lalu papa juma yang tercinta bertanya pada anaknya (baca:juma), "Ni," juma dipanggil ni bukan karena nama juma berganti jadi arini juga bukan karena mata papa lagi siwer sehingga salah mengenali anaknya sendiri, tapi karena juma adalah seorang cewe berdarah padang yang kebetulan juga seorang kakak, sehingga di rumah juma dipanggil uni (kakak perempuan dalam bahasa padang) "Sebentar lagi kan kamu selesai kuliahnya,,nah, abis itu mau ngapain?"
atas pertanyaan ini, juma tidak bisa menanggapi dengan kata-kata optimis seperti yang selalu juma keluarkan untuk membuat tenang papa dan mama, atau kata-kata penuh kepercayaan diri tinggi yang menandakan bahwa juma sudah punya rencana masa depan yang sangat lengkap dan rinci sampai ke menit dan detiknya. juma cuma bisa diem sambil senyum miris.
"Kenapa? belum kepikiran ya?" ditanya lebih jauh dengan pertanyaan seperti ini juma cuma bisa tambah diem, karena sungguh teman-teman semua, juma memang belum benar-benar berpikir tentang apa yang akan juma lakukan setelah menyelesaikan kuliah.
akhirnya, karena juma adalah seorang anak yang tidak mau membuat khawatir orangtuanya, juma pun berdoa dengan sepenuh hati agar Allah memberikan petunjuk-Nya. yang kemudian juma alami adalah salah satu bukti lagi bahwa memang tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Dia Maha Mengabulkan permohonan dan Maha Menjawab harapan hamba-hambanya. sehari setelah juma berdoa, petunjuk itu muncul dalam bentuk Odi. entah gimana, pas kita berdua lagi ngawas lab sambil ngobrol-ngobrol (maaf ya adik-adik kalau kita ganggu konsentrasi kalian, abis nunggu dua setengah jam sambil diem itu sungguh-sungguh membosankan) tiba-tiba kita masuk ke topik skripsi dan laporan magang, terus otomatis berlanjut ke topik karir.
karena merasa diberi jalan untuk mendapatkan jawaban atas semua kegelisahan (juma seriusan gelisah ampe berasa putus asa mikirin masa depan), juma pun konsultasi gitu ama Odi. konsultasinya panjang, tapi intinya adalah: Di, mendingan ntar gw ngelamar kemana ya?
Odi bilang, "kalo lo emang belom punya cita-cita yang spesifik, mending lo coba masuk KAP dulu."
well, jadi KAP adalah jawaban dari doa juma. sayangnya jawaban yang akan membuat juma menjadi seorang munafik karena pernah melontarkan kalimat, "gw ga mau ah jadi auditor."
jadi bagaimana posisi gw sekarang di mata Tuhan ya? akibat satu kalimat yang terlontar spontan karena mendengar cerita yang ga asik tentang auditor dan karena merasa masa depan masih sangat jauh.
selama ini, masa depan bagi gw adalah menikah dengan seseorang yang baik hati dan mempunyai tiga orang anak yang lucu-lucu dan pintar-pintar serta soleh dan solehah. tapi ternyata masa depan yang seperti itu malah lebih jauh dibanding jadi auditor. kesempatan gw untuk menikah dan punya anak sama besarnya dengan kesempatan pinguin untuk bisa terbang. tapi yah, gw ga akan berhenti berharap dan berdoa, dan juga tidak akan berprasangka buruk pada Tuhan, karena bukankah Tuhan itu bersama persangkaan hamba-hamba-Nya.
satu lagi yang akan juma ceritakan kali ini adalah excuse yang udah juma siapin untuk menjawab mengapa sampai sebesar ini juma masih belum punya cita-cita (selain menikah dan punya anak, serta masuk surga). setelah juma analisa, ada beberapa alasan kenapa hal ini terjadi:
1. walaupun juma anak pertama, tapi juma juga perempuan (juma selalu percaya kalau perempun bisa dapet pekerjaan abadi kapan aja, as a wife, yang ternyata sekarang terbukti tidak selalu benar)
2. juma dibesarkan oleh orang tua yang punya pekerjaan mapan dengan penghasilan mencukupi dan sudah punya tabungan untuk masa tua.
3. juma berasal dari keluarga kecil yang terdiri dari papa,mama,juma,dan fathy.
4. saat ini fathy udah mulai kuliah dan akan selesai pada saat juma mulai menghidupi diri sendiri.
5. sampai saat ini papa dan mama masih sehat dan masih bekerja.
well,,intinya adalah tidak ada tanggung jawab yang mendesak juma untuk dapet pekerjaan sesegera mungkin. mungkin rasa aman inilah yang membuat juma tidak tergerak untuk mencari cita-cita.
lagi-lagi, ini cuma excuse, hanya untuk membuat juma agak lega dan tidak terlalu merasa tidak berguna.
farewell.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar